Prinsip Dasar Desain Busana
Prinsip Dasar Desain Busana
Dalam menghasilkan sebuah busana, seorang fashion designer pasti akan membuat desain terlebih dahulu. Untuk menciptakan desain busana yang baik, perlu diterapkan prinsip desain agar busana yang dihasilkan menjadi lebih maksimal.
Pengertian dari prinsip-prinsip desain yaitu suatu cara bagaimana menyusun unsur-unsur yang terdapat dalam suatu gambar sehingga menjadi lebih indah dan menarik. Terdapat 5 prinsip desain yaitu balance, unity, perbandingan, irama, dan point of interest.
Balance (Keseimbangan)
Prinsip yang pertama yaitu balance atau keseimbangan yaitu keseluruhan komponen-komponen desain harus tampil seimbang dan tidak berat sebelah. Keseimbangan terbagi menjadi dua, yakni keseimbangan simetris dan keseimbangan asimetris. Keseimbangan simetris merupakan keseimbangan yang menggambarkan dua bagian yang sama dalam susunannya. Komposisi simetris meletakkan fokusnya di tengah dan unsur lainnya di bagian kanan dan kiri desain agar memberikan kesan yang sama-sama kuat. Sedangkan keseimbangan asimetris merupakan keseimbangan yang unsur-unsur bagian kanan dan kiri tidak sama melainkan diimbangi oleh unsur yang lain. Sehingga, keseimbangan ini walaupun komposisi kanan dan kiri tidak sama akan tetapi masih memancarkan keseimbangan. Keseimbangan asimetris dapat memberikan kesan keteraturan yang bervariasi, tidak formal, serta lebih dinamis.
Unity (Kesatuan)
Unity atau kesatuan merupakan sesuatu yang memberikan kesan adanya keterpaduan pada tiap unsur desain. Kesatuan di antara macam-macam unsur desain yang berbeda akan tetapi membuat bagian-bagian itu bersatu sehingga terlihat seperti sebuah benda yang utuh dan tidak terpisah-pisah.
Contoh desain yang memiliki banyak warna dan banyak elemen busana seperti kerah, saku, kancing, serta lengan tetap dapat terlihat serasi dengan prinsip desain kesatuan.
Perbandingan
Perbandingan menjadi prinsip desain ketiga yang berarti desain antara bagian yang satu dengan bagian yang lain. Hasil hubungan perbandingan jarak, ukuran, jumlah, tingkatan, dan lain sebagainya. Contoh perbandingan di dalam desain busana yaitu orang yang memiliki tubuh tinggi besar akan tidak serasi memakai topi dan tas yang berukuran kecil. Hal ini dikarenakan hiasan yang serba kecil justru akan membuat ia terlihat lebih besar. Begitu pula dengan wanita yang bertubuh kecil mungil kurang cocok apabila memakai pakaian dengan desain kerah berat atau gaun bermotif besar. Maka prinsip perbandingan sangat penting diterapkan dalam mendesain sebuah busana agar busana yang dihasilkan terlihat bagus dan cocok digunakan oleh pemakai.
Irama
Irama merupakan pergerakan mata yang dapat mengalihkan pandangan mata dari satu bagian ke bagian lain tanpa melompat. Irama dapat diciptakan melalui pengulangan, radiasi, penahan ukuran, dan pertentangan. Yang dimaksud dengan pengulangan yaitu penerapan suatu unsur lebih dari satu kali dalam tempat yang berbeda. Pengulangan terdiri dari dua jenis, yaitu pengulangan teratur dan pengulangan tidak teratur. Pengulangan teratur akan memiliki efek arah yang kuat akan tetapi akan cepat membosankan, sedangkan pengulangan tidak teratur efek arahnya akan lebih lemah namun hasilnya lebih menarik.
Yang kedua yaitu radiasi atau juga disebut sebagai pancaran yang berarti garis-garis radiasi didapat dari kerutan misalnya kerutan pada leher, yoke, saku, dan sebagainya. Ketiga merupakan peralihan ukuran apabila mata bergerak di seluruh siluet atau luas pakaian. Dari satu bagian ke bagian lain akan melihat bentuk atau warna yang berubah bertingkat. Misalnya pada perlakuan lebar rok, peralihan ukuran, pemakaian renda lada garis leher, dan lain-lain. Dan yang terakhir yaitu pertentangan merupakan utama yang terjadi dari kontras misalnya pertentangan garis motif kain atau pertentangan warna.
Point Of Interest (Fokus Perhatian)
Sebuah desain busana yang baik harus mempunyai sebuah bagian yang lebih menarik dari bagian-bagian lain. Pusat perhatian yang berlebihan justru akan kurang menyenangkan karena akan terlihat terlalu penuh atau banyak. Contoh pusat perhatian pada pakaian misalnya pada desain busana yang menjadikan bordiran gambar di baju sebagai pusat perhatian. Selain itu, motif batik pada tengah pakaian juga bisa menjadi fokus atau pusat perhatian pada busana yang ditampilkan. Tujuan dari prinsip pusat perhatian ini yaitu mengarahkan mata pada bagian yang paling menonjol dari si pemakai dan menyamarkan bagian yang kurang menarik agar tersembunyi.

Komentar
Posting Komentar